Jelajah Semarang , Rembang, Lasem 2017

Jelajah Semarang , Rembang, Lasem 2017

 

Waktu : 1-3 Desember 2017 jam 6:00am – 5:00pm

 

Lokasi : Little Nederland (Kota Lama Semarang), Lawang Sewu, Tugu Muda Semarang, Klenteng Tay Kak Sie – gang Lombok,  Mesjid Agung Demak, Mesjid Agung Rembang, Museum R.A. Kartini – Rembang, Klenteng Kwan Sing Bio  Tuban, Mesjid Agung Tuban, Makam Pahlawan Nasional R.A. Kartini – Bulu, Rembang , Pesanggrahan Winahyu (est. 1889) – Bulu, Blusukan Lasem, Pantai Karang Jahe Lasem, Klenteng Dwi Kumala Daratan – Rembang, Pelabuhan Rembang dan Klenteng Dwi Kumala Laut – Rembang.

 

Tempat berkumpul : Stasiun KA Tawang – Semarang

Komunitas pecinta seni, budaya dan peninggalan-peninggalan sejarah yang menjalankan misinya melalui tindakan nyata, Love Our Heritage (LOH) akan mengadakan rangkaian wisata sejarahnya kali ini melalui “Jelajah Semarang, Rembang, Lasem 2017” pada hari Jumat-Sabtu-Minggu  tanggal 1-2-3 Desember 2017. Jelajah kali ini adalah menyusuri pantai utara Jawa Tengah Tengah mulai dari Semarang menuju kota Rembang dan kota Lasem, bahkan melintasi provinsi Jawa Timur ke kota Tuban. Mengapa menyusuri pantai utara Jawa? Pantai adalah wilayah yang merupakan tempat terjadinya akulturasi budaya antara budaya masyarakat lokal dan masyarakat pendatang yang melahirkan budaya yang kaya warna dan corak kehidupan.

Kota Lama di Semarang adalah sebuah kawasan  tua yang merekam dengan jelas sejarah masa silam   yang merupakan wilayah perjanjian antara Kerajaan Mataram dan VOC pada tanggal 15 Januari 1678. Semarang  diserahkan oleh Amangkurat II kepada VOC sebagai pembayaran karena VOC berhasil membantu Mataram dalam menumpas pemberontakan Trunojoyo. Belanda lalu membangn Benteng Vifhoek di sana. Pada Peristiwa Geger Pacinan di tahun 1740 hingga 1743 yang merupakan perlawanan terbesar pada VOC di Pulau Jawa, Belanda membangun fortifikasi pengelililingi Kota Lama. Selanjutnya fortifikasi dibongkar  oleh Belanda pada tahun 1824. Batas-batas wilayah Kota Lama adalah Noordewaalstraat yang kini merupakan jalan Tembok Utara / jalan Merak di utara, oostwaalstraat yang kini merupakan Jalan Tembok Timur / Jalan Cendrawasih di sebelah timur, Zuiderwaalstraat yang kini merupakan jalan Tembok Selatan / jalan Kepodang, dan Westerwaalstraat yang kini merupakan jalan Tembok Barat / jalan Mpu Tantular. Pusat Kota Lama adalah Taman Srigunting yang di zaman Belanda lebih dikenal sebagai Paradeplein.

Stasiun KA Tawang juga termasuk ke dalam Kawasan Kota Lama Semarang yang menjadi obyek kunjungan awal di Semarang kali ini. Beranjak kearah yang lain menuju bangunan megah bersejarah bernama Lawang Sewu yang dibangun Belanda pada tahun  1904 sebagai kantor pusat perusahaan kereta api  (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), yang artinya pintu seribu. Masyarakat lokal setempat menyebut kata “seribu” untuk jumlah yang banyak, meski sebenarnya jumlah pintu yang ada di Lawang Sewu tidak sampai 1.000 pintu.

Klenteng Kay Tak Sie adalah Klenteng yang terdapat di kawasan jalan Gang Lombok Semarang. Didirikan pada tahun 1746 pada awalnya hanya untuk memuja Yang Mulia Dewi Welas Asih, Kwan Sie Im Pos Sat. Klenteng ini lalu berkembang menjadi klenteng besar yang juga memuja berbagai dewa-dewi Tao. Klenteng Tay Kak Sie merupakan klenteng terbesar dalam arti  banyaknya dewata di Kota Semarang.

Bergerak ke arah timur kota Semarang tepatnya di desa Kauman Kabupaten Demak yang juga dikenal sebagai kota para Wali terdapat Mesjid Agung Demak yang merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini dipercaya pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo.  Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu Raja pertama dari Kesultana Demak sekitar abad ke 15 masehi. Bangunan induk Masjid Agung Demak yang didirikan pada tanggal  1 Shofar  tahun 1401 Saka ini memilki empat tiang utama yang disebut Saka Guru. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari  tiga bagian yang menggambarkan :  1. Iman, 2. Islam dan 3. Ihsan.

Rembang adalah Kabupaten paling timur di Povinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tuban di provinsi Jawa Timur. Asal kata Rembang mempunyai banyak versinya. Salah satu yang dipercaya sebagian masyarakat adalah dari kata “kerem” (tenggelam) dan  “kemambang” (mengambang).  Nama ini berasal dari cerita seorang saudagar kaya asal negara Cina bernama Dampo Awang yang karena berbeda cara pandangan dengan Sunan Bonang tentang penyebaran agamanya masing-masing, suatu ketika berusaha mencelakai Sunan Bonang. Dampo Awang yang marah besar  langsung menyerang Sunan Bonang namun dapat dikalahkan dengan mudah oleh Sunan Bonang. Konon Ampo Awang diikat  di dalam kapalnya lalu Sunan Bonang menendang kapalnya hingga seluruh bagian kapalnya tersebar ke mana-mana. Sebagian kapal terapung di laut. Dampo Awang menyebutnya “kerem” (tenggelam), sedangkan Sunan Bonang menyebutnya “kemambang” (terapung). Akhirnya dari kedua kata itulah nama Kabupaten rembang berasal. Jangkar kapal Dampo Awang masih ada hingga kini di Taman Kartini sedangkan layar kapal menjadi Gunung Bugel yang menyerupai kapal besar di kecamatan Pancur. Dia atas Gunung ada sebuah makam konon mepupakan makam Dampo Awang.

Di Kota Rembang kita dapat mengunjungi Masjid Agung Rembang, bekas bangunan kabupaten yang kini menjadi Museum R.A. Kartini, lalu mengunjungi Makam Pahlawan Nasional R.A. Kartini yang berada di dalam lingkungan kompleks pemakaman keluarga Bupati Rembang KRMAA Singgih Djojoadhiningrat dan keturunan-keturunannya, serta melihat Pesanggrah Winahyu yang dibangun pada tahun 1889 di desa Bulu yang dulunya merupakan rumah peristirahatan keluarga Bupati Rembang. Di akhir kunjungan peserta akan diajak megunjungi Klentang Dwi Kumala  darat yang ada di sebelah selatan kota Rembang, serta menuju pantai pelabuhan Rembang yang terdapat Klenteng Dwi Kumala laut.

Menurut HANDINOTO (2015, di timur Kabupaten Rembang, terdapat kecamatan Lasem yang merupakan kota kuno bernuansa Tiongkok. Dari sebuah kota pelabuhan di Pantai Utara Jawa, Lasem berkembang menjadi  salah satu tempat tujuan bagi orang-orang Tionghoa yang mendarat di Jawa pada abad ke XV. Di Lasem diperkirakan  pada abad ke -11 sudah terdapat permukiman yang permanen orang Tionghoa di sebelah timur di tepi Sungai Lasem. Umumnya mereka menikahi wanita setempat dan kemudian memilih menetap  selamanya di tanah baru tersebut.  Kedatangan armada Cheng Ho (Zheng he) dari Tiongkok pada abad ke-14 pada dinasti Ming (1368-1644), yang juga berkunjung ke Pantai Utara Jawa (antara lain ke Semarang, Tuban  dan sebagainya) ikut menambah jumlah permukiman Tionghoa  di kota-kota Pantai Utara Jawa tersebut. Sungai, pelabuhan, pasar dan klenteng merupakan elemen pembentuk daerah Pecinan pada kota-kota di Pantai Utara Jawa. Pola dan bentuk bangunan pemukiman kuno yang tersisa menunjukkan  bukti bahwa kota ini dulunya pernah mengalami masa keemasan. Huru-hara orang Tionghoa di Batavia pada tahun 1740 ikut berpengaruh pada perkembangan kotanya. Belanda (VOC) yang mencurigai adanya perlawanan terselubung di sana menurunkan status Lasem yang dulunya merupakan kota Kabupaten menjadi kota kecamatan saja dan memindahkan ibukota ke Rembang pada tahun 1750. Sejak saat itu, kotanya mengalami kemunduran sedikit demi sedikit sampai sekarang. Di Lasem kita masih dapat melihat dan mengunjungi banyak bangunan-bangunan kuno bersejarah mulai dari tempat tinggal hingga klenteng kuno serta sentra-sentra batik Lasem yang terkenal karena corak dan warnanya yang lebih cerah dan berbeda dengan batik konservatif seperti pada umumnya.

Melintasi perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur rombongan akan memasuki Kabupaten Tuban. Di sini peserta akan diajak mengunjungi Klenteng Kwan Sing Bio yang mempunyai kompleks rumah ibadah yang luas dan megah. Klenteng Kwan Sing Bio merupakan satu-satunya Klenteng di Indonesia yang langsung menghadap ke laut  bebas. Menurut kepercayaan keberadaannya yang berani memantang laut ini lalu diartikan bahwa klenteng ini kuat. Sehingga dengan posisi yang demikian, klenteng  dengan hewan pelindung di Gerbang Utamanya berupa Kepiting ini, dipercaya sangat kuat dan berdoa di sini diyakini akan terkabul  doa-doanya. Selain ke klenteng Kwan Sing Bio, di Tuban peserta juga akan diajak melihat Masjid Agung Tuban yang lokasinya berdekatan dengan makam Sunan Bonang.

Selama mengikuti tur ini, peserta akan diantar dari satu lokasi ke lokasi bersejarah lainnya menggunakan mobil wisata berudara sejuk dengan itinerary sebagai berikut:

Susunan Acara:

Hari 1 Jumat , 1 Desember 2017:
06:00 – 06.15 Registrasi ulang di Stasiun KA Semarang Tawang

06:15 – 07:15 Menjelajahi Little Nederland di Kota Lama Semarang
07:15 – 07:30 Mengamati Lawang Sewu dan Tugu Muda Semarang
07:30 – 08:00 Mengujungi Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, Semarang

09:00 – 09:15 Melintasi Mesjid Agung Demak

10.30 – 10.40 Melintasi kawasan Tambak Garam di Kaliori
11.00 – 11.45 Mengunjungi Museum R.A. Kartini – Rembang

11.45 – 13.00 Makan siang ala hidangan pesisir di RM Lestari – Rembang

13.00 – 15.00 Melanjutkan perjalanan ke Tuban, Jawa Timur melalui jalan pos ex Daendels

15.00 – 16.00 Mengunjungi Klenteng unik Kwan Sing Bio

16.00 – 16.15 Melintasi Alun-alun, Makam Sunan Bonang dan Mesjid Agung Tuban

16.15 – 18.15 Kembali ke Rembang, check in ke Hotel Antika dan acara malam bebas (hunting kuliner) di Alun-alun kota Rembang**2

 

Hari 2 Sabtu, 2 Desember 2017

06:00 – 06:30 Sarapan di Hotel Antika

06:30 – 07:00 Perjalanan menuju Makam Pahlawan Nasional R.A. Kartini

07:00 – 07:30 Kunjungan ke Makam Pahlawan Nasional R.A. Kartini di Desa Bulu, Rembang

07:30 – 07:45 Kunjungan ke Pesanggahan Winahyu (est. 1889) milik keluarga Djojo       Adhiningrat di Desa Bulu, Rembang

07.45 – 08:15 Perjalanan menuju kota Lasem

08:15 – 16:00 Blusukan Lasem, highlights: Lawang Ombo, Klenteng Cu An Kiong, Rumah Tegel, Rumah Batik Sekar Kencono, Rumah Oma Opa, restorated Rumah Indische, Rumah Lie Hing Djoen. Daerah Kauman, termasuk makan siang di Warung ibu Tri

16:00 – 17:30 Mengunjungi Pantai Karang Jahe Lasem

17:30 – 19:00 Makan Malam di Rumah Mas Agiek

19:00 – 20:30 Kembali ke Hotel Antika, istirahat

 

Hari 3 Minggu, 3 Desember 2017

06:00 – 06:30 Sarapan di Hotel Antika

06:30 – 07:30 Mengunjungi Klenteng Dwi Kumala Daratan

07:30 – 08:00 Mencicipi Sate Serepeh khas Rembang

08:00 – 08:30 Menyaksikan Pelabuhan Rembang & Klenteng Dwi Kumala Laut

08:30 – 12:30 Perjalanan kembali ke Semarang

12:30 – 13:30 Makan siang di Semarang

13:30 – 14:30 Belanja oleh-oleh khas Semarang di Pandanaran

15:30              Jelajah Semarang, Rembang, Lasem 2017 berakhir.

Peserta kembali ke Jakarta sesuai dengan moda transportasi pilihan. Sampai jumpa pada Jelajah berikutnya di kesempatan yang lain.

***Rute dan waktu dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi lapangan.

*1 Peserta berangkat ke/dan pulang dari Semarang sesuai moda transportasi pilihan sendiri.

**2 Peserta diberi keleluasaan makan malam (hunting kuliner) dengan memilih sendiri menu makan malam khas di Alun-alun Rembang atas biaya sendiri.
Registrasi: Rp 1.650.000,-/pax (satu juta enam ratuslima puluh ribu rupiah), termasuk :
1. Satu group maksimal 16 (enam belas) orang peserta

2. Menginap di Hotel Antika Rembang twin sharing (bangunan hotel hasil restorasi dengan arsitektur Tiongkok yang anggun)

3. Local transport berAC selama Jelajah

4. Tour Guide

5. Perijinan-perijinan
6. ID Card
7. Sinopsis

8. Air minum dalam kemasan setiap hari

9. Makan sesuai program (3x Breakfast, 3x Lunch, 1x Dinner)

 

Jelajah tidak termasuk:

  1. Tiket moda transportasi pilihan peserta dari Jakarta ke Semarang pp

1.A. Peserta yang memilih moda transportasi KA dan Bus malam disarankan berangkat dari Jakarta pada hari Kamis malam tanggal 30 November 2017 sepulang kantor, sehingga dapat mengikuti seluruh rangkaian acara mulai hari Jumat 1 Desember 2017 dari stasiun KA Tawang Semarang.

1.B. Peserta yang memilih moda transportasi pesawat dapat berangkat naik pesawat paling pagi menuju Semarang hari Jumat 1 Desember 2017 dan berkumpul di Stasiun KA Tawang Semarang.

  1. Pengeluaran pribadi di luar program Jelajah, termasuk pemakaian telepon Telkom dari hotel, laundry hotel dan pesan makan/minum pilihan sendiri di hotel atau restoran/rumah makan.

 

 

Informasi:
Adjie Hadipriawan 0818724483
Putu Dinar 081314007607

Pembayaran secara kolektif ditransfer ke:
Rekening Bank BCA : nomor rekening  005-1637673 a/n. Moh. Adjie Hadipriawan

Pastikan menyertakan 3 digit nomor handphone anda saat membayar.
Misalnya nomor hp anda +62818724483, maka silakan transfer sejumlah Rp1.650.483,-

Konfirmasi pembayaran Anda. Sertakan NAMA, NOMOR HP, E-MAIL, jumlah orang yang mendaftar, dapat melalui :
a. Kirim sms ke 0818 724483 (Adjie) / 0813 1400 7607 (Putu) dengan subjek “Jelajah    Semarang, Rembang, Lasem 2017”.
b. Kirim e-mail ke loveourheritage@gmail.com dengan subjek “Jelajah Semarang. Rembang, Lasem 2017”.
c. Kirim fb message ke facebook Love Our Heritage dengan subjek “Jelajah Semarang,    Rembang, Lasem 2017”.

  1. Pembayaran dapat sekaligus paling lambat pada hari Jumat tanggal 24 November 2017, atau dalam 2 (dua) tahap :
  • Pembayaran Tahap 1 sebesar 50% (Rp 825.000,-) paling lambat hari Jumat tanggal 10 November 2017 untuk kenyamanan dan kepastian pemesanan hotel dan local transport.
  • Pembayaran Tahap 2 sebesar 50% (Rp 825.000,-) paling lambat diterima pada hari Senin tanggal 24 November 2017
  • Ketentuan untuk para peserta:
    – Dresscode:
  • Pada Hari 1, peserta memakai pakaian bebas dan sopan. Pada Hari 2 pakaian berwarna merah (boleh baju bahan atau kaos). Pada Hari ke 3 silakan menggunakan pakaian bebas dan sopan.

– Memakai pakaian yang sopan dan tidak mengenakan celana pendek, rok pendek atau   legging karena akan memasuki rumah-rumah ibadah.

– Memakai alas kaki yang nyaman untuk berada di dalam kendaraan dalam waktu panjang.   Silahkan memakai sandal saat berkunjung ke lokasi pantai.

– Membawa payung atau topi, handuk, sunblock dan obat-obatan pribadi.
NB : Informasi di atas dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi di lapangan. Seluruh keuntungan dari tur ini akan dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial dan konservasi terhadap seni, budaya dan peninggalan-peninggalan sejarah yang diselenggarakan oleh komunitas Love Our Heritage (LOH).

 

Terima kasih.

www.loveourheritage.org
FB group: LOVE OUR HERITAGE
@loveourheritage

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *